Bismillahirrahmanirrahim Tentang puisi yang tak ada usai
Untuk manusia terbaik yang beri
Member tanpa sisa
Jiwa raga dipertaruhkan demi kami
Tak akan habis bait-bait cinta untuk tulusmu
Dedauanan depan kamar menyapa di pagi-pagiku
Rembulan mengusik di hening-hening gelap melewati gulita malam
Gemintang yang tak jemu dan temaram lampu 5 wat di kamarku
bagaimana tidak tak kugoreskan penaku
jemari lusuh di atas keyboard butut pemberianmu
bagaimana tidak malam dengan sembab yang tak berpenghabisa
untuk manusia-manusia ternaikku
izinkan karyaku berbicara
menyampaikan tatih asa sisa yang dulu
menyulut sedikit lagi remahan tenaga
kuatkaku tak seberapa lagi
waktuku kini tak semenarik kemaren
tantangan yang ku bahagiakan kini sering tak terladeni
aku tak seutuh dulu
periangku tak se konyol dulu
manusia-manusia terbaikku
tahukah
sisa-sisa ini tinggal demi kalian
cinta gratis menyebur di seluruh neuron dan sel syarafku
do’a-do’a telah Allah jilid beribu exampler
titah dan bingkisan kado cinta
tak berkecukupan
tak perkesudahan
mengalir bak mata air kehidupan
biarkan aku meneguknya
sebagai sumber energi melangkah menapaki jejak-jejak para pendahulu
biarkan aku terus merebah di padang-padang penghambaan
pengabdian
perjuangan
manusai-manusai terbaikku
tak aka nada standar layak yang pas disini
seberapa profesionalnya sang pujangga
seberapa jeniusnya sang fisikawan
seberapa cekatannya para militer jagad kehidupan
tiada kemampuan untuk itu
manusia-manusia terbaikku
kirimilah aku, titah cinta tak jemu
hingga langkah-langkahku ada berkah dan cahaya di arah tujuankua
ayah ibu maafakan daku
lisan yang lemah ini kadang mengadirkan kata yagn tak pas di hatimu
tubuh yang rapuh ini sering disikap yang jauh dari pantas kuperbuat untukmu
maaaf ata cinta yang akan pernah sebanding denganmu
maaf atas senyum yang sering jauh dari harapanmu
ayah ibu
maafku di peraduan mala mini
kuhaturkan salam rinduku….
I love you
Comments
Post a Comment